Benarkah Kanjeng Ratu Kidul Jaga Mataram dari Wabah Bencana?

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Benarkah Kanjeng Ratu Kidul Jaga Mataram dari Wabah Bencana?

NEWS POST
Jumat, 15 Mei 2020

News Post ■ Masyarakat Jawa hidup berdampingan selama ini, seimbang antara alam dan spiritual. Berbagai kisah pun menemani perjalanan peradaban masyarakat yang bahkan masih terus lestari hingga di era modern saat ini.

Di masa pandemi Covid-19 ini, di mana hampir semua orang Jawa sepakat menyebut sebagai pageblug, ada mitos yang tertulis di berbagai serat tentang kekuatan tak kasat mata yang melindungi kawasan Kerajaan Mataram. Hal tersebut bersumber dari Kanjeng Ratu Kidul, sosok ratu cantik jelita yang dipercaya bertahta di laut selatan.

Dr. Purwadi, M.Hum yang merupakan Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) memberikan gambaran bagaimana Ratu Kidul dalam perjalanannya. Sumbernya diambil dari beberapa kitab seperti Babad Padjajaran, Babad Tanah Jawi dan Babad Mentawis.

Ratu Kidul adalah Putri Raja Pajajaran

Kanjeng Ratu Kidul pada masa mudanya bernama Dewi Ratna Suwida. Dalam Babad Pasundan diceritakan bahwa Dewi Ratna Suwida adalah putri Raja Pajajaran, yaitu Prabu Mundingsari. Permaisuri Prabu Mundingsari bernama Dewi Sarwedi. Menurut silsilahnya Dewi Sarwedi adalah putri Sang Hyang Suranadi yang menjadi raja siluman di Kraton Sigaluh.

Dewi Ratna Suwida terkenal sebagai sekar kedhaton atau putri Kraton Pajajaran yang sakti mandraguna. Sang putri suka melakukan tapa ngrame, tapa ngidang dan laku prihatin di Gunung Kombang yang terletak di pulau Karang Ngliyep Malang Jawa Timur. Selama menjalankan tapa brata ini Dewi Ratna Suwida menampakkan daya magis dan kekuatan ghaib.

Seluruh penduduk negeri Pajajaran mengakui kecantikan Dewi Ratna Suwida. Kecantikannya setaraf dengan Bathari Uma, permaisuri Bathara Syiwa yang menguasai Kahyangan Junggring Salaka. Banyak para pangeran dari berbagai kerajaan ingin melamar putri Pajajaran. Raja dari Daha, Jenggala, Kahuripan, Banjar, Serdang, Goa, Bugis, Siak berkirim surat kepada raja Pajajaran. Intinya mereka bermaksud ingin besanan.

Sayang seribu sayang, Dewi Ratna Suwida belum bisa memenuhi semua lamaran kehormatan itu. Putri Pajajaran itu menyadari bahwa dirinya sedang dirundung malang yang sangat dirahasiakan. Dewi Ratna Suwida menderita sakit budhug yang amat parah. Penyakit budhug sejenis dengan lepra. Daripada menanggung malu dan penyesalan, maka semua lamaran tidak diterima. Penolakan itu semata-mata demi kebaikan bersama.

Atas saran eyangnya, Sang Hyang Suranadi yang menguasai mahluk halus Kerajaan Sigaluh, Dewi Ratna Suwida disuruh tapa kungkum atau berendam di Telaga Ratu. Tapa kungkum atau berendam yang dilakukan Dewi Ratna Suwida menambah pancaran kecantikan.

Wilayah Kerajaan Sigaluh berada di pesisir Jawa bagian selatan ditambah dengan samudra raya yang luas. Sang Hyang Suranadi amat cinta pada cucunya. Pada tahun 346 Saka Sang Hyang Suranadi lengser keprabon madeg pandhita. Beliau menyerahkan tahta kekuasaan kepada Dewi Ratna Suwida. Dewi Ratna Suwida pun menjadi raja di Kraton Sigaluh. Atas restu dan dukungan Sang Hyang Suranadi, Dewi Ratna Suwida memindahkan ibukota Sigaluh ke dasar samudra raya.

Ibukota kraton yang berada di dasar samudra itu bernama Kraton Soko Domas Bale Kencono. Dewi Ratna Suwida diberi gelar baru oleh Sang Hyang Suranadi. Gelarnya Kanjeng Ratu Kenconosari atau Kanjeng Ratu Kidul.

Tinggal di utara Soko Domas Bale Kencono terjadi pada tahun 1398 Saka. Perdana menteri Kraton Sokodomas Bale Kencono adalah Kanjeng Ratu Angin-angin. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh barisan prajurit yang bernama Nyi Lara Kidul. Mereka bertugas menjaga laut selatan, supaya tanah Jawa subur makmur ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi. (KR)