Santriwati Di Soreang Bandung 3 Tahun Dipaksa Melayani Birahi Gurunya

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Santriwati Di Soreang Bandung 3 Tahun Dipaksa Melayani Birahi Gurunya

NEWS POST
Selasa, 26 Mei 2020


NEWS POST ■  Selama 14 tahun, Bunga, bukan nama sebenarnya harus melayani nafsu bejad gurunya di sebuah pondok pesantren daerah Soreang Bandung Jabar. Kebiadaban sang guru yang berinitsial EP,36, dikenal sebagai ustad berakhir ketika korban berusia 17 tahun.

Akibat tak tahan akan tekanan batin yang dipendam selama 3 tahun Bunga akhirya mengadu pada orangtuanya. Kini, EP telah ditangkap polisi dan ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerkosaan. Ustaz cabul ini terancam hukuman 15 tahun penjara.

Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan. Pelaku dibekuk setelah Polresta Bandung menerima laporan dari orang tua korban. “Kami lakukan penyelidikan dan mengamankan tersangka EP atas dasar laporan orang tua korban,” kata Hendra di Mapolresta Bandung, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (26/5/2020).

Kata Hendra modus operandi pelaku melakukan aksi bejatnya dengan cara menakut-nakuti akan menyebarkan foto korban tanpa hijab. Pelaku awalnya meminta korban dipotret tanpa mengenakan jilbab terlebih dulu.

Kemudian, tersangka EP, mengancam korban akan menyebarluaskan foto tersebut melalui media sosial jika korban tak mau menuruti kemauannya. Di sekolah agama itu ada aturan kalau tidak mengenakan hijab akan dikenai sanksi.

“Berdasarkan pengakuan korban, modus pelaku dengan cara menakuti korban menyebarluaskan foto tanpa hijap di media sosial,” ucap Hendra.

Karena takut fotonya disebarluaskan di media sosial, tutur Kapolresta, korban menuruti permintaan bejat pelaku EP. Akhirnya, tersangka EP leluasa memotret korban tanpa busana bahkan berhubungan badan. Aksi bejat pelaku telah berlangsung sejak korban berusia 14 tahun.

Ironisnya lagi, aksi bejat pelaku EP itu berlangsung di lingkungan pesantren, tepatnya di ruangan seni budaya dan di kontrakan pelaku.

“Pelaku EP ini diketahui sehari-hari bekerja sebagai tenaga pengajar tetap di sekolah. Pelaku pun telah berkeluarga. Jadi bukan pimpinan pondok pesantren,” pungkas Kapolresta.

Sementara itu, pelaku EP mengaku khilaf. Dia mengaku baru dua tahun melakukan aksi bejat pada korban, tetapi tak sampai berhubungan badan dengan korban. “Enggak sampai disetubuhi. Saya khilaf,”  kilah EP. (Pkt/Y-1WS)